Annyeong!!!
Author baru lagi bikin ep ep nih, pada pengen baca gak #reader: (gelenggeleng)#
Nih langsung aja deh, author juga males nulis lagi, pokoknya intinya semua yang adha di sini Sungmin, walau entar pair nya bisa ganti ganti #tawa nista#
Mianhae
.Cast : Sungmin , Siwon, Kyuhyun
.
Warn : Genderswitch, kalo gak suka silakan pergi, ha ha ha
.
Summary : Sungmin, yeoja imut yang memiliki masa lalu yang kelam, Ia ingin merubah semuanya namun banyak hal yang membuatnya galau, apa sungmin berhasil?
-
-
-
Author
POV
Sungmin kembali meringkuk di samping
tempat tidurnya, bahunya bergetar hebat mengiringi bulir bulir bening yang
terus mengalir membasahi apapun yang dilewatinya. Hatinya benar-benar sakit tak
kala sebelumnya Appanya datang dan mengatai sungmin sebagai wanita murahan dan
tak punya harga diri. Sungmin sadar ia memang seperti itu, tapi itu dulu
sebelum ia mulai merubah hidupnya.
CKLEK
Sungmin masih terus menangis, tak
menghiraukan siapapun yang kini membuka pintu kamarnya. Hatinya masih begitu
terluka menyadari bahwa dirinya akan selalu dianggap rendah oleh Appanya.
“Minnie, gwenchana?” sapa yeoja
paruh baya yang dipanggil Umma oleh Sungmin atau Minnie. Sungmin mendongakkan
wajahnya. dengan segera ia memeluk Ummanya itu, air matanya semakin deras
mengalir.
“Minnie, sudahlah, uljima ne. umma
ada disini untukmu” kata sang Umma menenangkan anak semata wayangnya.
Sungmin masih terus menangis sambil
memeluk sang Umma, tak sedikitpun ia ingin melepaskan Ummanya barang sedetik.
Sang Umma pun mengerti akan keadaan putrinya itu. Dengan lembut dan penuh
perasaan sang Umma mengelus rambut sungmin untuk menenangkannya. Tak lama
setelah itu pelukan Sungmin mulai mengendur, tak ada lagi tangisan yang
terdengar. Sungmin tertidur, ia mungkin sangat lelah hari ini. Bagaimana
mungkin seorang yeoja yang masih sangat muda, harus diperlakukan seperti ini
oleh Appanya sendiri. Mungkin ini memang kesalahan Sungmin sendiri di masa
lalu.
Flashback
On
“Mau jadi apa kamu, anak bodoh. Kamu
pikir dengan melepas kevirginanmu untuk lelaki b^ng^at itu bisa menjamin
hidupmu.” Kata sang Appa dengan suara yang sangat amat keras.
Sungmin diam dipelukan sang Umma,
dia menunduk, sejujurnya sungmin malu mengetahui kebodohannya. Dia sangat tahu
konsekuensinya kalau ia sudah bertindak dibatas kewajaran. Kebebasan yang
selama ini ia dapat, ia salah gunakan, dan akhirnya dia sendiri yang akan
menanggung akibatnya.
“Sudah Yeobo, Minnie masih sangat
muda, dia mungkin hanya terlalu meluapkan perasaan cintanya sehingga melakukan
hal itu” kini giliran sang umma yang bicara, ia mencoba untuk menenangkan
suaminya yang terbakar api kemarahan.
“Hah, terus saja kau bela anakmu
itu, dia sudah melakukan hal yang menjijikkan itupun masih tetap kau bela” Appa
sungmin berlalu setelah meluapkan semua kemarahannya.
Sungmin menangis dipelukan sang
Umma, ummanya yang memang berhati malaikat itu hanya bisa tersenyum, walau
hatinya memang sangat terluka dan kecewa atas apa yang telah sungmin lakukan.
Mungkin sifat sang umma sangat berbeda dengan Appa sungmin, appanya memiliki
sikap yang tegas dan keras, namun tak dapat dipungkiri kalau ia sangat
menyayangi keluarganya.
Flashback
Off
Keesokan
paginya
Sungmin kini sudah rapi dengan
seragam sekolahnya, dia sedikit melupakan kejadian semalam yang memang sangat
menyakitkan hati itu. Dia tetap tegar menghadapi semuanya, karena ia sudah
berjanji untuk bisa merubah dirinya menjadi lebih baik.
Sungmin berjalan sedikit takut takut
menuju ke meja makan. Ia takut kalau Appanya akan bersikap seolah sungmin tak
ada. Karena hal itulah yang selalu terjadi kalau kejadian seperti semalam
kembali terulang. Namun beruntung bagi sungmin, appanya sudah pergi sejak dini
hari tadi. Tentu saja untuk bekerja, appanya adalah seorang pengusaha yang
sangat sukses, tak jarang ia sering ke luar negeri dan mungkin akan pulang 1-2
minggu lagi.
Hah, sungmin sedikit lega mengetahui
kenyataan itu. Tak lama wajah malaikat umma sungmin muncul dari dapur, sambil
memegang semangkuk bubur. Dia tersenyum memandang putri yang sangat ia sayangi.
Umma sungmin memang sangat memanjakan sungmin, namun sungmin sadar, kalau ia
dimanjakan bukan berarti dia harus manja, siapapun tahu kalau sungmin itu yeoja
yang sangat mandiri.
-
-
-
“Minnie, kau pasti semalam
bertengkar lagi dengan Appamu?” tanya seorang namja tampan dengan tubuh tinggi
atletis sambil menatap sungmin dengan tatapan ibanya.
“ngg, n-ne oppa, Appa kembali
mengataiku wanita murahan” jelas sungmin dengan menundukkan kepalanya, bahunya bergetar
lemah.
Namja itu mendekatkan duduknya
dengan sungmin dan memeluknya erat, menyalurkan jutaan perasaan cinta kepada
yeoja imut ini. Ia mencoba merasakan beban yang dihadapi yeojachingunya itu,
tak sering pula ia ikut menangis ketika mendengar cerita dari yeoja yang amat
sangat ia cintai itu.
“siwon oppa, aku sudah tidak kuat
lagi seperti ini terus, ini terlalu menyakitkan untukku” jelas sungmin lagi
dengan air mata yang sudah mengalir bebas di pipi mulusnya. Siwon mengeratkan
pelukannya, tak berapa lama air matanya ikut mengalir.
KRIIINNNGGGG
Suara bel menginterupsi kegiatan
mereka, sungmin dan siwon segera mengapus air mata masing-masing dan berjalan
menuju ke kelas. Suara bisik-bisik mulai terdengar ketika mereka masuk kelas.
Yah, hal seeperti ini sudah biasa terjadi kalau mereka berjalan berdua ,sungmin
menundukkan wajahnya dan siwon memakai kaca mata hitam. Semua langsung mengira
mereka habis menangis bersama lagi.
Siwon menarik kursi sungmin agar
sungmin bisa duduk, dan segera mendudukkan dirinya di samping sungmin.
Author
Pov end
Sungmin
Pov
Siwon oppa memang sangat baik
kepadaku, dia selalu bisa membuatku tenang walau akhirnya dia akan ikut
menangis bersamaku. Sejak pertama kali aku melihatnya, aku bisa melihat
ketulusan di dalam hatinya. Makanya aku berani menerimanya langsung untuk
menjadi namjachinguku, dan itu memang terbukti, selama hamper 1 tahun bersama.
Ia selalu ada untukku dan menjadi sandaranku.
“Morning Class” tiba tiba suara Kim
songsaengnim menggema di ruangan ini dan membuyarkan pikiranku. Aku
memperhatikan sosok di belakang seongsaengnim dan berjalan agak sedikit
menunduk.
“Oppa, dia anak baru ya?” tanyaku
pada siwon oppa.
“Ne,chagi, kemarin Appa sempat
bilang kalau kelas kita akan ada murid baru, namanya . . .”
“Ya! Kalian berdua berhentilah
berbicara, dan untuk kamu sungmin, Saya memberi tugas untukmu supaya mengantar
kyuhyun berkeliling sekolah”
DEG
Siapa yang disebutkan songsaengnim
tadi, Kyuhyun, apakah mungkin dia. Cho kyuhyun. Namja yang sudah merusak
hidupku. Namja yang dengan santainya meninggalkanku dalam keadaan seperti itu.
Aish, kepalaku mendadak pusing. Aku menajamkan penglihatanku. Tapi namja di
depan tadi masih tetap menunduk sampai songsaengnim menyuruhnya untuk memperkenalkan
diri.
“An-anyeong, choneun Cho Kyuhyun
Imnida, Bangaepseumnida” aku membelalakan mataku, aku masih tetap tidak percaya
kalau namja setan itu datang lagi ke kehidupanku. Aku membatu di tempat,
badanku serasa lemas.
“chagi, Minnie chagi, wae” aku
tersentak kaget, nyawaku seperti kembali secara kilat. Aku memandang siwon Oppa
yang memandangku penuh kekhawatiran, aku tersenyum lembut, agar dia tidak
curiga kepadaku.
Sungmin
Pov end
Kyuhyun
Pov
Akhirnya aku menemukannya juga,
setelah beberapa tahun tak melihat wajah imutnya. Kurasa dia sangat kaget
melihatku di sini, terlihat sangat jelas sampai dia membatu seperti itu. Tapi
siapa namja yang ada di sebelahnya, kenapa mereka seperti terlihat sangat
dekat, atau mungkin sungmin sudah menemukan penggantiku.
Tapi tak akan aku biarkan aku
kehilangan sungmin lagi. Ahh, Mianhae nae chagi, kalau bukan karena appamu yang
menyuruhku meninggalkanmu, aku tak akan lakukan itu. Aku sebenarnya tak ingin
melihat mata indahmu itu menangis untuk semua ini. Lihatlah matamu itu,
terlihat bengkak dan merah, apa kamu habis menangis chagi. Kenapa aku jadi tak
tega seperti ini, apa kau selama ini terus menangis.
“ehmm. kyuhyun~sii, kau bisa duduk
dikursi kosong sebelah sana”
Aku menatap kursi yang songsaengnim
tunjuk, mataku berhenti di meja belakang sungmin. Benar benar beruntung aku
hari ini. Selain nanti aku akan bersama sungmin seharian, aku juga duduk
dibelakangnya.
“ehmm, kyuhyun~sii, kau memang suka
melamun ya” sontak aku langsung meminta maaf kepada kim seongsaengnim dan
berjalan menuju ke tempat dudukku.
Kyuhyun
Pov end
Siwon
Pov
Ada sesuatu yang aneh dengan sungmin,
tak biasanya dia langsung kaget seperti itu saat mengetahui anak baru. Tunggu
dulu, tadi namanya siapa, Astaga, itu mungkin Cho Kyuhyun yang sungmin pernah
ceritakan waktu itu. Dan kenapa dia harus duduk di belakang kami, aku benar
benar tidak bisa terima ini. Mungkin aku akan bilang kepada Appa kalau Kyuhyun
dipindahkan saja dari kelas ini. Tapi apa alasanku nanti, aku tak mungkin
menceritakan semua pada Appa, malah nanti appa menyuruhku memutuskan sungmin.
Andwae, aku tidak bisa melepaskannya.
Aku melihat anak itu terus manatap
sungmin sambil berjalan menuju bangkunya. Aku menatapnya sinis, dia sempat juga
menatapku namun dia seperti acuh denganku. Hei, sungmin itu milikku.
“chagi, kalau kamu tidak mau
mengantarkan anak itu berkeliling, biar aku saja yang melakukannya” kataku
kepada sungmin. Dapat dengan jelas kudengar, seseorang dibelakang kami
mendecih, aku tahu itu pasti kyuhyun.
“aniyo Oppa, aku tidak mau
menyusahkan Oppa, ini kan tugas dari kim songsaengnim untukku bukan untuk Oppa”
“kalau begitu nanti kutemani ya, dan
tidak ada penolakan chagi” kataku sambil tersenyum.
“ne, oppa, arratso arratso” katanya
juga dengan senyuman, aku mengelus sayang rambut hitam panjangnya itu. Tapi aku
juga merasakan betapa sedihnya dia mengetahui hal ini, dapat kulihat dari
tatapan matanya yang kosong itu.
Selama pelajaran dapat kurasakan
kalau kekasihku ini sedang cemas, mungkin ada hal yang ia pikirkan. Apa mungkin
ia sedang berfikir kenapa Kyuhyun ada lagi di kehidupannya. Kalau memang itu
yang dia pikirkan, sebenarnya aku juga memikirkan hal yang sama. Tak dapat
kupungkiri kalau aku juga cemas, kalau suatu saat nanti sungmin akan kembali
kepada kyuhyun dan meninggalkanku.
Tidak bisa, aku harus mempertahankan
sungmin. Setelah cukup lama aku bersamanya dan membuatnya percaya padaku. Tak
mungkin aku lepaskan dia begitu saja.
-TBC-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar